Jumat, 16 Oktober 2015

Mengeksplorasi Unit Skala Peringkat (Rank Scale) dalam Functional Grammar

Mengeksplorasi Unit Skala Peringkat (Rank Scale) dalam Functional Grammar
Oleh: Denny Nugraha
Tadris Bahasa Inggris Semester 5 (B)
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon

Pendahuluan
            Chapter review ini diniati sebagai ulasan eksploratif mengenai kajian rank scale (clause, group, dan word) dalam fokus Functional Grammar. Setiap konsep dan penjabaran yang dihadirkan dalam unit ini, merujuk kepada pencetus lahirnya kaidah Functional Grammar yaitu M.A.K. Halliday (2004). Dimensi penjelasan dan kajian pada unit ini yaitu berawal dari klausa (clause), grup (group) dan kata (word) secara berurutan. Oleh karena itu, unit ini akan bermuara kepada unit kata (word) sebagai unit gramatikal terendah dalam skala peringkat (rank scale).

Skala Peringkat Tertinggi (Klausa)
            Klausa merupakan unit gramatikal tertinggi dalam sistem skala peringkat (rank scale). Karena klausa (clause) adalah sebuah kombinasi dari tiga struktur yang berbeda yang berasal dari komponen-komponen fungsional tersendiri yang disebut sebagai ‘metafungsi’ dalam teori sistemik (Halliday, 2004 p.320). Metafungsi bahasa yaitu ideational (klausa sebagai representasi), interpersonal (klausa sebagai pertukaran), dan textual (klausa sebagai pesan) yang kemudian disebut sebagai tiga komponen fungsional makna ini bersama-sama membentuk klausa dengan caranya tersendiri.
            Dalam rank scale, klausa dibagi kedalam dua tipe yang berbeda yaitu finite-clause dan nonfinite-clause. Finite-clause merupakan jenis klausa yang mengandung subject (nominal group) dan finite (finite-verb). Subject (nominal group) bisa merupakan noun (benda) yang meliputi benda seperti car, table, phone dan juga bisa merupakan pronoun (kata ganti orang) seperti Andi, they, we dan sebagainya. Sedangkan finite (finite-verb) meliputi semua jenis kata kerja seperti transitive, intransitive, intensive dan lain-lain kecuali bentuk kata kerja to-infinitive, present participle, dan ed-participle. Contoh dari finite clause adalah; ‘They play football’ (subject + transitive verb) dan ‘She sleeps’ (subject + intransitive verb). Sedangkan nonfinite clause merupakan klausa yang mengandung nonfinite verb meliputi bentuk kata kerja to-infinitive, ing-participle, dan ed-participle. Klausa ini biasanya tidak memiliki subject, contohnya adalah; ‘In order to save money’ dan ‘Having stayed in their house’.

Skala Peringkat dibawah Klausa (Grup)
            Perbedaan antara klausa dan grup dalam teori sistemik adalah hanya dalam satu derajat. Namun cukup memungkinkan kita untuk menganalisa struktur grup dalam satu operasi makna (metafungsi), daripada dalam tiga operasi sekaligus sebagaimana kita melakukannya pada klausa. Grup ekuivalen terhadap word-complex yaitu kombinasi dari kata-kata yang dibangun pada basis hubungan logika. Hal inilah yang kemudian dapat membedakan antara grup dengan phrase. Grup merupakan ekspansi (perluasan) dari kata sedangkan phrase adalah penyusutan dari sebuah klausa (Halliday, 2004 p. 311). Oleh karena itu, istilah ‘group’ lebih dipilih sebagai unit yang terletak diantara peringkat sebuah klausa dan kata daripada ‘phrase’.
            Dalam skala peringkat, grup dibagi kedalam empat jenis yang berbeda. Keempat jenis itu ialah nominal group, adjectival group, adverbial group, dan prepositional phrase. Nominal group merupakan kelompok yang memiliki head sebagai noun (benda) yang dapat merepresentasikan noun seperti car, chair, cup dll., dan pronoun seperti Andy, they, we dll. Adjectival group adalah kelompok yang memiliki head sebagai adjective (sifat) yang berfungsi memodifikasi (modifier) nominal group, contohnya adalah beautiful, bad, kind dll. Adverbial group adalah kelompok yang memiliki head sebagai adverb (keterangan) yang berfungsi memodifikasi (modifier) finite (finite-verb) dan adjectival group, contohnya adalah beautifully, carefully, quickly dll. Sedangkan prepositional phrase merupakan bagian yang dibedakan dari grup meskipun memiliki status yang sama dalam rank scale. Prepositional phrase memiliki fungsi yang sama seperti halnya adverbial group yaitu sebagai circumstance, namun prepositional phrase lebih ekspresif karena dilengkapi oleh kehadiran nominal group didalamnya, contohnya adalah; in the house, without doubt, out of range dll. Dalam rank scale, prepositional phrase memiliki operator sebagai preposition (kata depan) dan nominal group yang berfungsi sebagai complementiser (pelengkap).

Skala Peringkat Terendah (Kata)
            Kata (word) dalam rank scale menempati posisi terendah dan tidak mempunyai klasifikasi khusus tersendiri seperti halnya clause dan group. Hal ini disebabkan karena dalam kajian Functional Grammar, word dapat diklasifikasikan sebagai kategori leksikal atau gramatikal. Oleh karena itu, perlu dicatat bahwa klasifikasi kata itu tidaklah absolut (Emilia, 2014 p. 60). Selain itu, dalam rank scale juga dijelaskan bahwa kata adalah kelas yang berfungsi secara gramatikal sebagai konstituen (unsur pokok) dari sebuah grup. Baik itu nominal group, adjectival group, adverbial group, maupun prepositional phrase menggunakan dan menempatkan kata (opsional) secara berbeda. Hal ini juga nantinya akan menentukan jenis klausa yang terbentuk.

Kesimpulan
            Rank scale merupakan bentuk pemeringkatan dalam bahasa. Dalam hal ini, bahasa Inggris memiliki sistem pemeringkatan layaknya dalam sebuah angkatan militer. Masing-masing unit dari peringkat tersebut terdiri dari unit-unit yang berada dibawahnya (kecuali kelas kata). Contohnya dapat dilihat dari ujaran ‘Stop!’ dan ‘Come!’, dua bentuk ini adalah klausa karena sudah termasuk satu unit gramatikal. Baik klausa ‘Stop!’ maupun ‘Come!’ terdiri atas satu grup (finite) yang kemudian terdiri atas satu kata (Halliday, 2004 p. 9).
Referensi
Halliday, M.A.K dan Matthiessen, M.I.M. (2004). An Introduction to Functional Grammar. London: Hodder Arnold.
Emilia, E. (2014). Introducing Functional Grammar. Bandung: Pustaka Jaya.
Gerot, L dan Wignell, P. (1995). Making Sense of Functional Grammar. Sydney: Gerd Stabler.
Halliday, M.A.K dan Matthiessen, M.I.M. (2014). Halliday’s Introduction to Functional Grammar 4th Edition. London: Routledge.

Download Full Text Here 

Senin, 12 Oktober 2015

KOSA KATA BENDA (NOUN VOCABULARY)

By: Denny Nugraha - Philia Puspitasari - Siti Nurkomalasari - Mega Nudiya Amburika
TBI-B-V
IAIN Syekh Nurjati Cirebon

3. Kosa Kata Benda (Noun)
Kata benda membentuk mayoritas kosa kata dalam bahasa Inggris. Hal ini membuat kata benda merupakan kosa kata yang kaya akan makna dan keterhubungan yang sangat kompleks daripada jenis kata lainnya yang ada dalam bahasa Inggris. Kosa kata benda berbeda dengan kosa kata sifat (adjective) yang bersifat uni-dimensi, sehingga dapat dikatakan bahwa kosa kata benda lebih bersifat multi-dimensi, yakni mempunyai jangkauan makna yang lebih luas dan beragam daripada kata sifat. Berikut ini akan dijelaskan macam-macam hubungan dan istilah yang ada dalam kaitannya dengan kosa kata benda.
3.1. Hubungan-kepunyaan (the has-relation)
Kata-kata benda dimaknakan oleh beberapa kata benda lain yang menggambarkan bagian-bagian yang dimiliki oleh suatu kata benda. Seperti pada contoh kata benda yang digambarkan oleh sisi-sisinya yang lurus dan tertutup itu disebut sebuah “segitiga” jika dan hanya jika benda tersebut mempunyai tiga sisi. Hal ini menunjukan hubungan entailment; benda itu adalah segitiga à (berarti) benda itu mempunyai tiga sisi. Dengan hubungan ini, kita dapat menggambarkan/menyebutkan bagian-bagian dari kata benda yang ada jika hubungan-kepunyaan ini dinyatakan sesuai dengan bentuk dasar (default) kata benda tersebut yang disebut prototypes.
Prototypes adalah bentuk dasar yang jelas dan sentral yang menunjukan sebuah kata benda. Contohnya ketika kita menggambar sebuah wajah, maka kita tentu akan menggambar dua bola mata, sebuah hidung, dua buah telinga dan sebuah mulut. Hal ini menunjukkan bahwa kata benda “wajah” mempunyai sebuah mulut, sebuah hidung, dua buah mata dan dua buah telinga. Seperti juga ketika kita menggambar sebuah rumah, maka prototypes-nya adalah benda yang mempunyai pintu, atap, dan jendela adalah sebuah rumah. Namun prototype dari sebuah rumah atau wajah mungkin mempunyai hal-hal yang lain disamping yang telah disebutkan diatas.
Entailment yang dibuat berdasarkan prototypes yaitu adalah; Ada sebuah rumah disana à ‘jika itu merupakan prototype untuk “rumah”, maka rumah tersebut mempunyai atap’; seorang anak menggambar sebuah wajah à ‘jika wajah yang digambar itu merupakan prototype atau bentuk dasar dari sebuah wajah, anak tersebut menggambar sebuah mulut’. Kata “jika” yang digunakan diatas menunjukkan bahwa rata-rata kata bahasa Inggris tidak secara ketat mendefinisikan sebagaimana kata-kata teknis seperti segitiga dan persegi.

3.1.1. Kesimpulan Pragmatis dari hubungan-kepunyaan
Hubungan-kepunyaan, terbatas pada prototype, adalah dasar dari untuk beberapa ekspektasi pragmatis kita dalam penggunaan bahasa. Hal ini dapat dilihat dalam sebuah pergantian dari indefinite ke definite articles. Sebuah noun phrase yang pertama kali menyebut kata benda kedalam sebuah percakapan itu biasanya menggunakan indefinite articles (a,an). Tetapi pada penyebutan kedua dari sebuah benda yang sama akan digunakan sebuah definite article yaitu the. Contoh:
a.       A: “I’ve bought a house.” B: “Where’s the house?” (bukan: “Where’s a house?”)
b.      C: (seorang anak menunjukkan sebuah gambar): “I drawed a face.” D: (merespon pada anak tersebut dan berkomentar tentang gambar anak tersebut): “I like the face you drew.” (bukan: “I like a face you drew.”).

3.1.2. Bagian-bagian dapat memiliki bagian-bagian
Pada bagian ini, kata benda menunjukkan sebuah label didalam hubungan-kepunyaan yang mempunyai bagian, yang pada gilirannya juga mempunyai bagian-bagian lain dibawahnya. Contoh pada label “Suburb” dibawah ini:
A suburb à has houses, A house à has windows, A window à has panes.
A suburb à has streets, A street à kerbs.
Pada diagram diatas, rumah-rumah (houses) dan jalanan (streets) merupakan bagian dari daerah pinggiran kota (suburb), yang kemudian mempunyai bagian-bagian yang lain dibawahnya. Namun disisi lain, pada kata “kerbs” tidak harus menjadi bagian dari sebuah jalan, mungkin itu juga merupakan bagian dari lapangan parkir.

3.1.3. Bagian-bagian yang bersifat spasial
Sebuah bentuk dasar (prototype) ‘thing’, seperti sebuah batu dapat dikatakan mempunyai sisi atas, bawah atau dasar, sisi-sisi dan bagian depan dan belakang. Dua poin yang perlu dicatat mengenai kata-kata ini. Satu yaitu bahwa kata-kata itu sangat umum; sangat banyak macam-macam benda: jendela, kepala, wajah, kaki, bus, pohon, lembah, secara acak hanya beberapa yang mempunyai-sisi atas, belakang, samping, depan dan belakang.
Pragmatis masuk pada interpretasi kata-kata yang bersifat deictic. Makna dari sebuah kata deictic terikat kepada situasi pengucapan. Sisi depan sebuah batu menghadap ke arah pembicara dan sisi belakang membelakangi pembicara, dan sisi samping adalah sisi kanan dan kiri dari sudut pandang pembicara. Contoh lain adalah sebuah bus yang secara intrinsik mempunyai sebuah non-deictic sisi atas, bawah, samping, depan dan belakang. Sisi atas sebuah bus adalah atapnya, sisi depan sebuah bus adalah ujung supir, tidak peduli darimana si pembicara melihatnya dan seterusnya. Disisi lain, seorang penyelamat yang berada diatas sebuah bus yang terbalik, secara deictic tidak berada diatas bus (on the top of bus). Berikut ini adalah daftar benda yang mempunyai bagian spasial yang inheren dan benda yang mempunyai bagian yang spasial hanya secara deictic:
Ø  Benda yang mempunyai bagian spasial inheren : People (orang), houses (rumah), trees (pohon) (atas, dasar, samping), hills (bukit) (atas, dasar, samping), animals (binatang), pianos (piano).
Ø  Benda yang mempunyai bagian spasial hanya secara deiktik: Balls (bola), planets (planet) (dalam percakapan antara amatir melalui sebuah teleskop), trees (pohon) (depan, belakang), hills (bukit) (depan, belakang).

3.1.4. Ujung (akhir) dan Pangkal (awal)
Benda-benda yang tipis dan panjang memiliki ujung, dan kadang-kadang dua jenis ujung yang berbeda dibedakan: pangkal dan ujung. Sebuah daftar beberapa benda-benda yang secara prototypical atau mendasar mempunyai ujung yaitu: rope (tali), pieces of string ( potongan benang, senar), kapal (buritan dan haluan), jalan, kereta api, dan papan.
Kata benda yang menunjukkan periode waktu mempunyai ujung dan pangkal, juga mempunyai tengah/pertengahan. Contohnya adalah sebagai berikut:
a.       Hari, minggu, bulan, era/zaman, masa, semester, abad.
b.      Percakapan, demonstrasi, upacara, makan, penyambutan/penerimaan, proses.

3.1.5. Beberapa bagian-bagian yang lain
Tubuh manusia adalah sebuah sumber bahasa metafora. Contohnya adalah lose one’s head (kehilangan kepala seseorang), yang berarti ‘panic’ (panik). Hubungan-kepunyaan menggunakan antara berbagai kata yang menunjukkan bagian-bagian tubuh manusia. Kata person adalah sebuah kata yang ambigu yang menunjukkan jasmani atau fisik seseorang yang bisa jadi besar atau jelek – atau psikologis seseorang – yang bisa jadi ramah atau bodoh dan seterusnya. Fisik seseorang secara mendasar mempunyai sebuah kepala, sebuah batang tubuh, dua tangan, dua kaki, kemaluan, dan kulit. Bagian-bagian ini dan beberapa bagian-bagian yang mereka punya, diperlihatkan dibawah ini:
-          A person has a head, a torso, arms, legs, genitals, skin (seseorang mempunyai sebuah kepala, sebuah batang tubuh, lengan, kaki, kemaluan, dan kulit).
-          A head has a face, hair, forehead, jaw (sebuah kepala mempunyai sebuah wajah, rambut, dahi, dan rahang).
-          A face has a mouth, nose, chin, eyes, cheeks (sebuah wajah mempunyai sebuah mulut, hidung, dagu, mata, dan pipi).
-          A mouth has lips (sebuah mulut mempunyai bibir).
-          A torso has a chest, back, belly, shoulders (sebuah batang tubuh mempunyai sebuah dada, punggung, perut, dan bahu).
-          An arm has an upper arm, forearm, biceps, elbow, wrist, hand (sebuah lengan mempunyai lengan atas, lengan bawah, otot bisep, siku, pergelangan tangan, dan tangan).
-          A hand has a palm, fingers, knuckles (sebuah tangan mempunyai sebuah telapak tangan, jari-jari, kuku)..
-          A person’s skin has pores (kulit manusia mempunyai pori-pori).
Sebuah bentuk dasar dari kursi mempunyai punggung, dudukan, dan kaki. Menariknya kata-kata back (punggung) dan leg (kaki) adalah juga bagian dari label tubuh manusia. Label-label bagian tubuh manusia seperti kepala, leher, kaki, dan mulut digunakan untuk memberikan label bagian-bagian dari sebuah jangkauan benda-benda yang luas: contohnya, sebuah gunung mempunyai kepala (puncak) dan kaki; botol-botol mempunyai leher, gua dan sungai mempunyai mulut. Rupanya inimengindikasikan bahwa kecenderungan seorang manusia untuk menafsirkan dan memberi label dunia melalui analogi dengan apa yang kita paling mengerti dengan baik sekali, seperti tubuh kita sendiri.
3.2. Hiponimi
Hiponimi adalah hubungan kata dengan kata lain yang dicakupi di bawahnya. mengatakan bahwa hiponimi adalah hubungan antara kata yang umum dengan kata yang lebih khusus. Sebagai contoh yang menggambarkan kata benda: sebuah rumah (house) merupakan salah satu jenis bangunan, adapun pabrik, gereja, masjid, gedung merupakan jenis lain dari bangunan. Dan bangunan merupakan salah satu jenis struktur.  Hiponimi pada tingkat atas disebut superordinate dan pada tingkat bawah disebut hiponim (=Inggris hyponym).  Misalnya, Bangunan merupakan superordinate dari rumah, pabrik, gedung, dan sebagainya, sedangkan rumah, pabrik, gedung dan sebagainya merupakan hiponim dari bangunan.
Hiponimi mengandung hubungan logis  pada entailment, artinya kalau kita sudah mengatakan hiponimnya maka kita dapat membayangkan nama kelompoknya, dan kalau kita sudah menyebut nama kelompoknya, maka kita dapat menyebutkan hiponimnya.  Misalnya kalau kita menyebut rumah maka kita telah mengetahui bahwa rumah termasuk bangunan, dan kalau kita menyebut bangunan, maka sudah termasuk di dalamnya, rumah, pabrik, dan sebagainya.
3.2.1. Hierarkhi Hiponim
Relasi hiponimi bersifat searah, bukan dua arah, sebab kalau rumah berhiponim dengan bangunan, maka bangunan bukan berhiponim dengan rumah, melainkan berhipernim. Dengan kata lain, kalau rumah adalah hiponim dari bangunan, maka bangunan adalah hipernim dari rumah. Ada juga yang menyebut bangunan adalah superordinate dari rumah (dan tentu saja dari pabrik, dari gereja, dan dari jenis bangunan lainnya). Hubungan antara rumah dengan pabrik gereja, dan jenis bangunan lainnya di sebut kohiponim dari bangunan.

Relasi semantik antara penggolongan (superordinate atau hiponim). Hiponimi adalah hubungan makna yang mengandung pengertian hierarki. Hubungan hiponimi ini dekat dengan sinonimi. Misalnya kata thing sebagai penggolong atau hipernim memiliki ciri semantik: of building

Building     hiponim dari structur; superordinate of house



House     hiponim dari building

Dari contoh di atas dapat diketahui rumah yang merupakan bawahan dari bangunan ialah  ciri fisik yang berarti bahwa rumah tidak hanya hyponym bangunan, tetapi juga merupakan hyponym dari atasan langsung bangunan, struktur; dan, melalui struktur, rumah juga merupakan hyponym. Sedangkan rumah dan pabrik yang merupakan hiponim atau bawahan dari bangunan memiliki semua ciri dari bangunan. Karena itu hubungan keduanya disebut kohiponim.   
Miller dan Fellbaum (1991) melaporkan perkembangan WordNet, database kata makna dari bahasa Inggris. Pada 1991 WordNet terdapat lebih dari 54.000 kata yang berbeda. Dalam menciptakan database, mereka menemukan bahwa hirarki hyponym dengan dua puluh enam superordinates tingkat tinggi, seperti waktu, tanaman, hewan dan sebagainya, 'menyediakan tempat untuk setiap noun' (1991: 204). Pada Gambar 3.5 sebagian besar berdasarkan deskripsi mereka hirarki hyponym untuk kata benda dalam bahasa Inggris lebih dominan. Berdasarkan hal tersebut, berikut ini adalah ringkasan mengenai hiponim dan hubungan kata benda:
-       Relasi antara penggolongan atau hipernim dengan hiponim-hiponimnya adalah relasI yang bersifat atas bawah atau searah.
-       Hiponimi mengandung hubungan logis  pada entailment, artinya kalau kita sudah mengatakan hiponimnya maka kita dapat membayangkan nama kelompoknya, dan kalau kita sudah menyebut nama kelompoknya, maka kita dapat menyebutkan hiponimnya.
-       Masalah hiponim dan hipernim sebenarnya tidak lain dari usaha untuk membuat klasifikasi terhadap konsep akan adanya kelas-kelas generik dan spesifik.
-       Bentuk ujaran yang secara semantik menyatakan generik ada kemungkinan menjadi sebuah bentuk ujaran spesifik, dan bentuk ujaran yang spesifik dapat juga menjadi bentuk generik dalam tataran yang lebih luas lagi.
-       Ciri-ciri semantik yang ada pada hipernim atau penggolongnya juga dilmiliki oleh hiponim-hiponimnya.
-       Relasi antara hiponim-hiponim dapat disebut kohiponim karena hiponim memiliki semua ciri semantik dari hipernim.

3.2.2. Hiponim dan Hubungan kepunyaan (The has-relation)
            Dua hubungan semantik ini hendaknya tidak dibingungkan: hiponimi adalah tentang kategori-kategori yang dikelompokkan dibawah istilah superordinat. Contohnya adalah tandem, ATB, tourer, dan racer merupakan macam-macam dari sepeda dua roda, dan sepeda dua roda, satu roda, dan tiga roda merupakan macam-macam dari sepeda. Tetapi hubungan kepunyaan memperhatikan bahwa bagian-bagian yang merupakan anggot-anggota yang bersifat prototipikal dari kepunyaan kategori diatas, contoh, sebuah bentuk dasar sepeda mempunyai ban, sebuah kerangka, setir, dan pedal, sepeda roda dua mempunyai bagian-bagian ini juga dan juga mempunyai rantai. Tetapi tentu saja, sebuah sepeda roda dua tidak memiliki tandem, dan sebuah rantai bukanlah jenis dari sepeda roda dua.
            Sebuah bentuk dasar sebuah benda mempunyai karakteristik yang secara umum dimiliki oleh semua bagian dibawahnya. Contohnya adalah; sebuah bentuk dasar sebuah pohon mempunyai daun, maka semua jenis pohon (hiponim dari sebuah pohon) secara umum mempunyai ciri-ciri yang sama seperti kebanyakan pohon. Misalkan juga bentuk dasar dari sebuah rumah mempunyai pintu dan jendela, begitu juga dengan superordinat dari sebuah rumah yaitu bangunan mempunyai pintu dan jendela. Hal ini disebut sebagai inheritance, yaitu adalah pewarisan sifat dari sebuah superordinat kepada hiponim yang berada dibawahnya.

Kesimpulan
            Kosa kata benda mempunyai banyak sekali kajian semantik yang luas dan bervariasi. Hal ini ditunjukkan bahwa setiap kata benda bisa merujuk pada makna yang sama, seperti terlihat dalam pembahasan mengenai hubungan kepunyaan (the has-relation). Melalui hubungan ini dapat dikatakan bahwa kata benda selalu dilihat dari bagaimana bentuk dan hal-hal apa yang dimilikinya. Bagian-bagian yang dimiliki tersebut dapat mempunyai bagian-bagian lain yang merupakan sesuatu yang ada dalam bagian benda tersebut. Definisi kata benda juga dapat ditentukan dari bagian yang secara umum ke khusus, yaitu lewat hubungan superordinat dan hiponimi. Hiponim merupakan hubungan kata benda yang menunjukkan keterkaitan kata benda yang satu dengan yang lainnya secara hierarkhis.

Daftar Pustaka


Griffiths, Patrick. 2006. An Introduction to English Semantics and Pragmatics. Edinburgh: Edinburgh University Press.

Menjelajah Kajian Kompleks antara Teks dan Grammar

Download Full Text Here
Menjelajah Kajian Kompleks antara Teks dan Grammar
Oleh: Denny Nugraha
Tadris Bahasa Inggris (TBI-B) Semester V
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon


Pendahuluan
Chapter review ini diniati sebagai ulasan dan tinjauan mengenai penjelajahan kompleksitas teks dengan grammar yang digaungkan oleh linguist besar M.A.K Halliday (2004). Unit-unit gagasan yang akan diulas dalam tulisan ini mencakup tiga hal mendasar dalam fokus Functional Grammar seperti yang diterangkan oleh Halliday yaitu: kriteria teks dan grammar, relasi antara teks dan grammar, identifikasi grammar dalam teks.

Kriteria Dasar Teks dan Grammar
            Definisi mengenai teks sudah banyak dibahas dan merupakan satu kajian yang umum di dunia linguistik terapan (applied linguistics). Selama kita berbahasa, maka selama itulah kita akan bergelut dengan teks. Hal ini secara khusus menyatakan bahwa dalam kehidupan kita sehari-hari kita selalu menemukan dan menggunakan teks. Kenyataan bahwa manusia adalah makhluk sosial menunjukkan bahwa bahasa merupakan kebutuhan yang sangat mendasar. Interaksi sosial yang dibangun oleh dua orang atau lebih dengan menggunakan bahasa tertentu dibangun terlebih dahulu melalui teks.
Suatu kriteria dibutuhkan untuk menjelaskan dan menentukan sebuah teks. Menurut Hoed (2011) dalam Emilia (2014), menyatakan bahwa suatu teks yang dihasilkan menggunakan bahasa tertentu pertama kali dirumuskan didalam pikiran, setelah itu diungkapkan entah itu secara lisan ataupun tulisan. Hal ini karena teks merupakan hasil yang mana manusia merumuskan pemikiran dan perasaannya secara verbal dan dengan demikian teks juga merupakan produk dari praktik berbahasa dan berbudaya. Namun sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya bahwa kriteria dasar dari teks itu tidak hanya terbatas pada bahasa secara verbal, namun juga dapat diungkapkan secara tertulis.
            Sebuah teks hanya dapat digunakan untuk tujuan yang komunikatif ketika teks itu memiliki beberapa kriteria dasar. Pertama, seperti yang telah dibicarakan sebelumnya yaitu ialah wujud dari teks tersebut, yaitu dalam bentuk ujaran (spoken/utterance) dan dalam bentuk tulisan (written). Kedua, sebagaimana menurut Christie (2005) yang dikutip oleh Emilia (2014), menyebutkan bahwa “A text is any meaningful passage of language” yang berarti sebuah teks adalah setiap wacana yang bermakna dari suatu bahasa. Oleh karena itu, sebuah teks hanya dapat disebut sebuah teks jika mempunyai makna tertentu. Tanpa adanya makna, maka teks tidak bisa digunakan dalam komunikasi. Ketiga, sebuah teks harus mempunyai struktur atau kaidah tertentu yang telah disepakati oleh masyakat sebagai pengguna bahasa. Hal ini penting karena jika tidak adanya kaidah bahasa, maka makna yang ada dalam teks tidak dapat tersampaikan. Keempat dan yang terakhir adalah bahwa sebuah teks memiliki sebab dan alasan tertentu yang melatarbelakanginya. Inilah yang disebut dengan konteks dari sebuah teks yang akan dijelaskan lebih lanjut.
            Ada banyak sekali cara atau pendekatan yang digunakan oleh para linguist dalam mendefinisikan grammar. Istilah “grammar” awalnya digunakan untuk mengatur penggunaan bahasa dan juga merupakan standar yang telah ditetapkan bagi masyarakat pengguna bahasa. Grammar umumnya merujuk kepada segala sesuatu yang berhubungan dengan kaidah atau seperangkat aturan dari sebuah bahasa. Istilah ini juga sering digunakan untuk merunut pada segala sesuatu hal yang menjadi tolak ukur atas pengetahuan seseorang mengenai bahasa yang digunakannya. Pada umumnya, setiap bahasa di dunia ini memiliki apa yang dinamakan grammar. Seseorang yang lahir dan tumbuh di suatu negara tertentu yang masyarakatnya menggunakan suatu bahasa akan secara alami menguasai grammar dari bahasa tersebut.
Untuk menentukan kriteria dari grammar, kita harus terlebih dahulu memahami karakteristik dari grammar. Menurut Derewianka (1998) dalam Emilia (2014) menyatakan bahwa “Grammar is a way of describing how language works to make meaning within a particular culture” yang berarti bahwa grammar merupakan sebuah cara menggambarkan bagaimana bahasa itu bekerja untuk membuat makna dalam sebuah budaya tertentu. Dengan kata lain, adanya grammar membuat bahasa sebagai sistem dan sumber makna (meaning-making resource) dari setiap produk bahasa. Produk bahasa yang dimaksud salah satunya adalah teks yang telah dijelaskan sebelumnya. Sebagaimana telah diketahui bahwa sebuah teks yang bermakna harus mempunyai kaidah bahasa yang disebut grammar.
Berdasarkan keterangan diatas, kriteria dasar dari grammar dalam kajian/studi Functional Grammar ditentukan sesuai dengan fungsi dari grammar itu sendiri dalam bahasa. Yang pertama adalah sebagaimana dinyatakan oleh Halliday (1985) dalam Halliday dan Matthiessen (2004) bahwa “Grammar is the central processing unit of language, the powerhouse where meanings are created” maksudnya adalah bahwa grammar berfungsi sebagai unit pemroses pusat dari bahasa dimana makna diciptakan. Hal ini menunjukkan bahwa grammar adalah rujukan sentral untuk membuat teks itu bermakna dalam suatu interaksi. Yang kedua adalah fungsi strukturisasi bahasa oleh grammar. Dengan adanya grammar, maka penggunaan bahasa menjadi lebih sistematis dan mudah dipahami oleh penggunanya. Yang ketiga ialah seperti dinyatakan oleh Butt et al (2000) yang dikutip oleh Emilia (2014) bahwa “Grammar, to many people can also signify a fairly rigid set of rules for speaking and writing, the breaking of which will mark you out as uneducated, unsophisticated or even uncouth”, berarti bahwa bagi banyak orang grammar juga dapat berarti seperangkat aturan-aturan yang agak kaku untuk berbicara dan menulis, yang mana jika kita melanggar aturan-aturan itu kita akan dicap sebagai orang yang tidak berpendidikan dan tidak berbudaya.
Dengan terus berkembangnya kajian bahasa, maka wilayah kajian grammar dan teks pun juga ikut semakin berkembang. Dengan kata lain, sebagaimana Halliday dan Matthiessen (2004) menjelaskan bahwa “text is any instance of language, in any medium, that makes sense to someone who knows the language” berarti teks ialah setiap contoh bahasa, dalam media apa saja, yang dapat diterima oleh seseorang yang mengetahui bahasanya. Dan begitu pula dengan grammar, yang tidak hanya melihat bahasa berdasarkan atas strukturnya atau merupakan sekedar standar aturan belaka, melainkan juga sebagai sumber pembuatan dan penyampaian makna (meaning-making).

Relasi antara Teks dan Grammar
            Teks dan grammar merupakan dua sejoli yang tak terpisahkan dari kajian mengenai bahasa. Ketika kita membicarakan teks, maka kita juga sekaligus baik disadari atau tidak membicarakan grammar. Begitu juga sebaliknya, ketika kita mempelajari grammar bahasa Inggris contohnya, maka kita pasti mempelajari contoh-contoh penggunaan grammar (tenses, plurality, clause) melalui teks. Teks sebagaimana telah diketahui merupakan contoh bahasa, sehingga tidak heran jika kita selalu menghubungkan antara grammar dan teks. Karena grammar merupakan “Theory of Wordings” yang mana berarti teori dalam merangkai kata-kata sehingga membentuk sebuah teks yang utuh. Oleh karena itu, hubungan antara teks dan grammar menjadi lebih kompleks.
            Lebih lanjut, menurut Halliday (1985) dalam Emilia (2014) bahwa “A text is a semantic unit, not a grammatical one. But meaning are realised through wordings; and without a theory of wordings-that is grammar- there is no way of making explicit one’s interpretation of the meaning of the text” yang maksudnya adalah sebuah teks adalah sebuah unit semantik, bukan unit gramatikal, tetapi makna direalisasikan/dinyatakan melalui penyusunan kata dan tanpa teori penyusunan kata yaitu grammar, maka tidak ada cara membuat eksplisit/jelas interpretasi makna teks tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa tanpa adanya grammar, maka makna (meaning) suatu teks tidak mungkin dapat direalisasikan. Oleh karena itu, relasi yang terbangun antara teks dan grammar tidak bisa dipisahkan dan merupakan satu kesatuan komponen bahasa yang utuh.
            Selain itu, teks dan grammar secara khusus mempunyai hubungan yang bersifat timbal balik dan saling mempengaruhi. Contohnya adalah pengetahuan akan grammar yang baik akan memberikan dampak penggunaan bahasa yang baik pula. Seperti ketika kita dapat berbicara atau menulis dalam bahasa Inggris dengan baik (well-organized), maka itu artinya kita mempunyai pemahaman tentang English grammar yang mumpuni. Sebagaimana dikatakan oleh Derewianka (1998) dikutip oleh Emilia (2014) bahwa “To write a good text, we need a conscious knowledge of grammar, so we can make words work for us”, yang berarti bahwa kita butuh pengetahuan/wawasan yang sadar akan grammar untuk bisa menulis sebuah teks yang baik, sehingga kita dapat membuat teks itu berguna dan bermakna. Pengetahuan akan grammar, berdasarkan Derewianka (1985) mencakup pengetahuan tentang kata-kata, bagaimana kata-kata itu tersusun, dan bagaimana kata-kata itu dikombinasikan menjadi kalimat atau klausa.
            Dalam kajian Systemic Functional Linguistics dan Systemic Functional Grammar diketahui bahwa teks adalah objek kajian bahasa yang utuh dan bermakna, bukan dalam kata-kata atau klausa yang terisolasi/terpisah. Karena kita sebagai pengguna bahasa berkomunikasi dan berinteraksi dalam teks. Ada perbedaan yang mendasar antara teks dan klausa seperti yang dijelaskan oleh Halliday (2009) bahwa “The difference between a text and a clause is that a text is a semantic entity, i.e. a construct of meaning, whereas a clause is a lexicogrammatical entity, i.e a construct of wording”, yang berarti perbedaan antara sebuah teks dan sebuah klausa adalah bahwa sebuah teks adalah unit entitas/kesatuan semantik yaitu merupakan sebuah konstruksi makna (meaning), sedangkan sebuah klausa adalah sebuah unit entitas/kesatuan leksikogramatikal yaitu merupakan sebuah konstruksi penyusunan kata (wordings).
            Grammar secara langsung membangun makna yang diawali dengan dibentuknya kata-kata yaitu pada level lexicogrammar. Setelah itu, kata-kata itu membentuk sebuah klausa atau lebih sehingga tersusun menjadi sebuah teks yang utuh. Dalam hal ini, grammar-lah yang berfungsi untuk membuat makna dengan mengelola wordings pada tahap leksikogramatik dan mengusung unit semantik untuk sebuah teks. Sebagaimana dikatakan oleh Emilia (2014) bahwa “Grammar makes meaning and without the grammar, the meanings do not exist”, grammar menjadikan makna itu ada dan tanpa adanya grammar, maka tidak akan mungkin makna itu ada.
            Sebagaimana yang telah dijelaskan terdahulu bahwa teks merupakan contoh yang salah satunya digunakan untuk kepentingan kajian/studi analisis linguistik. Karena semua deskripsi grammar dan data linguistik yang dibutuhkan dalam penelitian atau analisis bahasa itu didasarkan kepada teks. Hal ini relevan dengan apa yang dinyatakan oleh Halliday (2004) bahwa “Text is the form of data used for linguistics analysis; all description of grammar is based on the text”. Pada akhirnya, teks sebagai salah satu produk/hasil bahasa hanya akan menjadi teks tidak dilihat dari panjang atau pendeknya melainkan makna yang ada didalamnya, dan juga teks akan menjadi teks ketika teks itu dibaca/diujarkan atau ditulis.

Identifikasi Makna Teks melalui Grammar dan Konteks
            Konsep yang ada dalam grammar sebagaimana didasarkan pada kajian Functional Grammar bahwa teks mencerminkan pertukaran informasi dan pengalaman antar pengguna bahasa yang terlibat interaksi. Ketika terjadi suatu interaksi, entah itu secara lisan maupun tulisan, teks diorganisir dengan grammar melingkupi suatu makna dan tujuan tertentu bersama konteksnya. Secara semantik, teks sebagai ujaran atau tulisan selain harus terorganisasi dengan baik (gramatikal) juga harus mempunyai konteks yang mengiringinya. Hal inilah yang dapat dikatakan ‘Interdependence’, karena pada dasarnya bahasa digunakan untuk menuju sesuatu (tujuan) yang dikehendaki oleh pembicara atau penulis. Oleh karena itu, identifikasi mengenai grammar dalam teks dan konteks dalam teks merupakan proses untuk menggali makna dalam sebuah teks.

            Dalam mengidentifikasi makna sebuah teks, kita harus mengetahui terlebih dahulu konteks yang datang bersama teks tersebut. Seperti ketika kita berinteraksi dengan orang lain, tentunya kita mempunyai tujuan dan makna tertentu. Makna itu dibuat oleh grammar tetapi ditentukan arahnya oleh konteks. Hal ini sebagaimana diusulkan oleh Collerson (1994) dalam Emilia (2014) bahwa “Whenever we use language-in speaking or listening, in writing, reading or just thinking-we select and arrange the words and other components in certain ways, according to certain principles, though usually we’re not aware of doing so. It is this organisation which enables us to achieve all the various purposes for which we use language”, berarti bahwa kapan saja kita berbahasa (berbicara, mennyimak, menulis, dan membaca atau hanya sekedar berpikir) kita memilih dan menyusun kata-kata (grammar) dan komponen lain (konteks) dalam cara-cara tertentu, berdasarkan pada prinsip-prinsip tertentu. Pengelolaan inilah yang memungkinkan kita untuk mencapai berbagai tujuan dengan menggunakan bahasa.
            Sebagaimana dalam melihat konteks suatu teks, menurut Halliday (1985) yang dikutip oleh Emilia (2014) bahwa “The text creates the context as much as the context creates the text, meaning arises from the friction between the two”, yang berarti teks itu menciptakan konteks sebanyak konteks menciptakan teks, lalu makna muncul dari pergesekan antara keduanya. Oleh karena itu, makna secara gramatikal (clause/sentence meaning) adalah makna literal (secara harfiah), namun makna bersama konteks akan menghasilkan atau membawa teks kepada rujukan yang sebenarnya dituju oleh pembicara atau penulis. Jadi, setiap teks membutuhkan grammar (wordings) dan juga konteks situasi (apa, siapa, bagaimana) dan budaya (mengapa) (situation/culture) untuk dapat diidentifikasi makna atau meaning-nya.

Kesimpulan
            Berdasarkan penjelasan-penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa teks merupakan satu kesatuan makna yang disusun dan terorganisasi melalui grammar dan dikelilingi oleh konteks yang melingkupinya. Sedangkan grammar merupakan suatu cara bagaimana teks itu disusun melalui tahap wordings, klausa dan pemaknaan. Setelah itu konteks merupakan sesuatu hal yang melingkupi teks dan menentukan arah atau tujuan dari makna yang dibuat oleh grammar dalam teks. Hubungan antara grammar dengan teks dan konteks dapat dilihat melalui definisi yang diberikan oleh Halliday (2004) bahwa grammar adalah “Theory of experience”, yaitu yang berarti bahwa setiap kegiatan bahasa selalu berurusan dengan pengalaman yang hendak disampaikan oleh seorang pembicara atau penulis.

Referensi
Emilia, Emi. 2014. Introducing Functional Grammar. Bandung: Pustaka Jaya

Halliday, M.A.K and Matthiessen, M.I.M. 2004. An Introduction to Functional Grammar. London: Hodder Arnold.

Senin, 31 Agustus 2015

MENGAJARKAN BAHASA INGGRIS MELALUI SASTRA

MENGAJARKAN BAHASA INGGRIS MELALUI SASTRA
Diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia oleh: Denny Nugraha
Jurusan Tadris Bahasa Inggris Semester V
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon
Ditulis dalam Bahasa Inggris (original) oleh: Murat Hismanoglu
Ufuk University, English Preparatory School

Abstrak
Jurnal ini menekankan pada penggunaan sastra sebagai teknik populer untuk mengajarkan kemampuan-kemampuan dasar berbahasa (membaca, berbicara, menyimak, dan menulis) dan area bahasa (kosa kata, tata bahasa, dan pengucapan) sekarang ini. Alasan untuk menggunakan teks sastra dalam kelas bahasa asing dan kriteria utama untuk memilih teks sastra yang cocok dalam kelas tersebut ditekankan sehingga akan membuat pembaca menjadi familiar dengan alasan-alasan dan kriteria yang disediakan bagi penggunaan dan pemilihan teks sastra oleh guru bahasa. Selain itu, sastra dan pengajaran kemampuan bahasa, kelebihan genre sastra yang berbeda (contoh; puisi, cerita pendek, drama dan novel) pada pengajaran bahasa dan beberapa permasalahan yang dijumpai oleh guru bahasa pada area pengajaran bahasa Inggris melalui sastra (contoh; kurangnya persiapan di area pengajaran sastra dalam program TESL (Teaching English as Second Language)/TEFL (Teaching English as Foreign Language), tidak adanya tujuan yang jelas dalam menentukan peran sastra dalam ESL/EFL, guru bahasa yang tidak mempunyai latar belakang dan pelatihan dalam sastra, kurangnya materi yang sesuai terdesain secara pedagogis yang dapat digunakan oleh guru-guru bahasa dalam konteks sebuah kelas) diperhatikan.
Kata Kunci: Sastra, Pengajaran Sastra, Pengajaran Kemampuan Berbahasa, Pengajaran Bahasa Asing, Kompetensi Kesastraan
1.    Pendahuluan
Di tahun-tahun terakhir ini, peran sastra sebagai sebuah komponen dasar dan sumber teks asli dari kurikulum bahasa daripada sebuah tujuan terakhir pengajaran bahasa telah mendapat momentumnya. Diantara guru bahasa, ada perdebatan panas tentang bagaimana, kapan, dimana, dan mengapa sastra harus diintegrasikan kedalam kurikulum ESL/EFL. Diskusi yang kokoh bagaimana sastra dan pengajaran ESL/EFL dapat bekerja sama dan berinteraksi untuk memudahkan siswa dan guru telah mengarah pada perkembangan ide-ide, pembelajaran, dan pengajaran yang menarik dan berkembang untuk semua. Banyak guru yang menganggap penggunaan sastra dalam pengajaran bahasa sebagai perhatian yang menarik dan layak diperbincangkan (Sage 1987:1). Dalam jurnal ini, mengapa seorang guru bahasa harus menggunakan teks sastra dalam kelas bahasa, jenis sastra apa yang guru bahasa harus gunakan bersama siswa, sastra dan pengajaran kemampuan berbahasa, dan kelebihan jenis-jenis karya sastra yang berbeda pada pengajaran bahasa akan diperhatikan. Demikian, tempat sastra sebagai alat daripada sebuah akhir dalam pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa kedua atau asing akan digali lebih dalam.
2.    Pengajaran Sastra: Mengapa dan Apa
Penggunaan sastra sebagai satu teknik untuk mengajarkan kemampuan-kemampuan dasar berbahasa (membaca, menulis, menyimak, dan berbicara) dan area bahasa (kosa kata, tata bahasa, dan pengucapan) sangat populer dalam bidang pembelajaran dan pengajaran bahasa asing sekarang ini. Selain itu, pada pelajaran penerjemahan, banyak guru bahasa menyuruh siswa-siswanya menerjemahkan teks sastra bahasa Inggris seperti drama, puisi, dan cerita pendek kedalam bahasa ibu (Turki). Karena penerjemahan memberikan siswa peluang untuk berlatih pengetahuan leksikal, sintaksis, semantik, pragmatis, dan stylistic yang telah mereka peroleh pada pelajaran lain, penerjemahan sebagai sebuah wilayah aplikasi meliputi empat kemampuan dasar dan sebagai kemampuan kelima ditekankan dalam pengajaran bahasa. Di segmen bawah, mengapa guru bahasa menggunakan teks sastra di kelas bahasa asing dan kriteria utama untuk menseleksi teks sastra yang sesuai di kelas-kelas bahasa asing ditekankan juga sehingga akan membuat pembaca familiar dengan alasan-alasan yang disediakan dan kriteria untuk pemanfaatan dan pemilihan teks sastra oleh guru bahasa.
2.1.  Alasan-alasan menggunakan teks sastra dalam kelas bahasa asing
            Menurut Collie dan Slater (1990:3), ada empat alasan utama yang menuntun seorang guru bahasa untuk menggunakan sastra di kelas. Alasan-alasan itu adalah materi yang bersifat asli dan berharga, pengayaan kultural dan keterlibatan personal. Selain itu daripada empat alasan-alasan utama ini, universalitas, non-trivialitas, keterkaitan personal, keragaman, ketertarikan, kekuatan ekonomi dan sugestif, dan ambiguitas adalah beberapa faktor lain yang mensyaratkan penggunaan sastra sebagai sebuah sumber yang kuat dalam konteks kelas.

a.    Materi yang asli dan berharga
            Sastra adalah materi yang otentik. kebanyakan karya sastra tidak dibuat untuk tujuan utama pengajaran bahasa. Banyak sampel otentik bahasa dalam konteks kehidupan nyata (contoh; jadwal perjalanan, perencanaan kota, bentuk-bentuk, pamflet, kartun, iklan, koran atau artikel majalah) telah dimasukan kedalam materi pelajaran akhir-akhir ini. Jadi, dalam konteks sebuah kelas, siswa diekspos pada sampel bahasa yang aktual dari kehidupan nyata / konteks seperti kehidupan nyata. Sastra dapat berperan sebagai pelengkap yang berguna untuk materi tersebut, khususnya ketika level “ketahanan hidup” pertama telah terlewati. Dalam membaca teks sastra, karena siswa juga harus berhadapan dengan bahasa yang dikehendaki untuk penutur asli, mereka menjadi familiar dengan banyak bentuk-bentuk linguistik yang berbeda, fungsi-fungsi dan makna-makna yang komunikatif.
b.    Pengayaan kultural
            Bagi banyak pembelajar bahasa, cara yang ideal untuk meningkatkan pemahaman mereka terhadap aspek-aspek komunikasi verbal/non-verbal di negara dimana bahasa itu diujarkan – sebuah kunjungan – adalah hampir tidak ada sama sekali. Bagi pembelajar tersebut, karya-karya sastra, seperti novel, drama, cerita pendek, dsb., memfasilitasi pemahaman bagaimana komunikasi dalam konteks di negara itu. Walaupun dunia novel, drama atau cerita pendek adalah imajiner/fiksi, karya tersebut menghadirkan latar yang penuh warna dimana karakter-karakter dari banyak latar belakang sosial/regional bisa dideskripsikan. Seorang pembaca dapat menemukan cara karakter-karakter dalam karya sastra tersebut melihat dunia luar (contoh; pikiran mereka, perasaan, kebiasaan, tradisi, yang dimilikinya; apa yang mereka beli, mereka percayai, mereka takuti, mereka nikmati; bagaimana mereka berbicara dan bertingkah dalam latar yang berbeda). Dunia buatan yang penuh warna ini dapat dengan cepat membantu pembelajar asing untuk merasakan kode-kode dan obsesi yang membentuk sebuah masyarakat nyata melalui literasi visual semiotik. Sastra mungkin lebih baik dipandang sebagai sebuah pelengkap untuk materi lain yang digunakan untuk mengembangkan pemahaman pembelajar asing tentang negara yang bahasanya dipelajari oleh mereka. Juga, sastra menambahkan banyak kasus tata bahasa kultural pembelajar.
c.    Pengayaan bahasa
            Sastra membekali siswa dengan jangkauan leksikal dan item sintaksis yang luas. Siswa menjadi familiar dengan banyak keunggulan bahasa tulis, membaca konten teks yang berbobot dan terkontekstualisasi. Mereka belajar tentang sintaksis dan fungsi diskursus kalimat, kemungkinan struktur yang beragam, cara-cara yang berbeda dalam menghubungkan pikiran-pikiran, yang mana kemudian akan mengembangkan dan memperkaya kemampuan menulis mereka sendiri. Siswa juga menjadi lebih produktif dan banyak bertualang ketika mereka mulai menghayati kekayaan dan keanekaragaman bahasa yang mereka coba pelajari dan mulai untuk mempergunakan beberapa potensi mereka sendiri. Jadi, mereka meningkatkan kompetensi kultural dan komunikatif mereka dalam kekayaan dan kealamian teks yang otentik.
d.   Keterlibatan personal
            Sastra bisa sangat berguna dalam proses belajar bahasa untuk memperlihatkan keterlibatan personal. Suatu ketika siswa membaca sebuah teks sastra, mereka mulai menempati teks. Mereka seolah-olah digambarkan dalam teks. Memahami makna-makna leksikal atau frase menjadi kurang signifikan daripada mengejar perkembangan cerita. Siswa menjadi antusias untuk menemukan apa yang terjadi sebagaimana kejadian yang dibeberkan lewat klimaks; mereka merasa dekat dengan karakter tertentu dan berbagi respon emosional mereka. Hal ini dapat menimbulkan efek yang bermanfaat pada keseluruhan proses pembelajaran bahasa. Pada titik waktu ini, keutamaan pemilihan teks sastra dalam hubungan dengan kebutuhan, ekspektasi/harapan, dan minat, level bahasa dari siswa adalah sebagai bukti proses belajar. Dalam proses ini, mereka dapat menghapus krisis identitas dan mengembangkannya kedalam pikiran yang terbuka.
            Maley (1989:12) membuat daftar beberapa alasan positif mengenai sastra sebagai sebuah sumber daya potensial dalam kelas bahasa sebagai berikut:
1)   Universalitas
            Karena kita semua umat manusia, maka tema-tema sastra selalu berhubungan dengan segala hal yang umum untuk semua budaya walaupun dengan cara persepsi yang berbeda-beda – kematian, cinta, perpisahan, kepercayaan, sifat ... hal-hal ini tentu familiar. Semua pengalaman ini terjadi pada umat manusia.
2)   Non-trivialitas
            Banyak bentuk-bentuk input/masukan yang lebih familiar dalam pengajaran bahasa yang cenderung untuk meremehkan teks atau pengalaman sedangkan sastra sebaliknya. Sastra adalah tentang hal-hal yang berarti bagi para penulis ketika mereka menuliskannya. Sastra mungkin menawarkan keotentikan sebagaimana masukan yang otentik.
3)   Keterlibatan personal
            Semenjak sastra berhubungan dengan pikiran-pikiran, hal-hal, sensasi, dan kejadian-kejadian yang merupakan bagian dari pengalaman pembaca atau yang mereka dapat masuki secara imajinatif, mereka mampu untuk menghubungkannya kedalam kehidupan mereka sendiri.                   
4)   Keragaman
            Sastra mencakup keragaman subjek masalah. Faktanya, sastra adalah sekumpulan topik-topik untuk digunakan dalam ELT (English Language Teaching). Didalam sastra, kita dapat menemukan bahasa hukum dan pendakian, bahasa obat-obatan, ceramah gereja dan perbincangan keperawatan.
5)   Minat/ketertarikan
            Sastra berhubungan dengan tema-tema dan topik-topik yang secara intrinsik menarik, karena merupakan bagian dari pengalaman manusia, dan memperlakukan mereka dalam cara-cara yang dirancang untuk menarik perhatian pembaca.
6)   Kekuatan sugestif dan ekonomi
            Salah satu kekuatan terbesar sastra adalah kekuatan sugestifnya. Bahkan dalam bentuk yang paling sederhana, sastra mengajak kita untuk pergi keluar dari apa yang dikatakan kepada apa yang disiratkan. Karena sastra mengajukan banyak pikiran dengan beberapa kata, maka sastra adalah hal yang ideal untuk menumbuhkan diskusi bahasa. Hasil yang maksimal bisa jadi sering berasal dari masukan/input yang minim.
7)   Ambiguitas
            Sebagaimana sastra sangat sugestif dan asosiatif, sastra berbicara secara halus makna-makna yang berbeda kepada orang yang berbeda. Jarang sekali bagi dua pembaca untuk bereaksi sama terhadap suatu teks. Didalam pengajaran, sastra mempunyai dua kelebihan. Kelebihan pertama adalah bahwa masing-masing penafsiran siswa mempunyai validitas dalam keterbatasan. Kelebihan yang kedua adalah bahwa sebuah modal yang hampir tak terbatas dari diskusi interaktif dapat terjadi sebab masing-masing persepsi siswa berbeda-beda. Bahwa tidak seorangpun dari dua pembaca akan mempunyai penafsiran konvergen/yang menyatu sama sekali yang membangun ketegangan yang perlu untuk sebuah pertukaran pikiran yang otentik.
            Terpisah dari alasan-alasan yang disebutkan diatas untuk menggunakan sastra dalam kelas bahasa asing, salah satu fungsi utama sastra adalah kekayaan sosiolinguistiknya. Penggunaan bahasa berubah dari satu kelompok sosial ke kelompok yang lain. Demikian juga, sastra berubah dari satu lokasi geografis ke lokasi geografis yang lain. Seseorang berbicara secara berbeda dalam konteks sosial yang berbeda seperti sekolah, rumah sakit, kantor polisi dan teater (contoh; percakapan yang formal, informal, tidak formal, dingin, intim). Bahasa yang digunakan berubah dari satu profesi ke profesi lain (contoh; dokter, insinyur, ekonom, menggunakan istilah/terminologi yang berbeda). Untuk meletakannya secara berbeda, karena sastra membekali siswa dengan jangkauan keragaman bahasa yang luas seperti sosiolek, dialek daerah, jargon, idiolek, dsb., sastra mengembangkan kompetensi sosiolinguistik mereka ke bahasa target. Oleh sebab itu, menggabungkan sastra kedalam sebuah program pengajaran bahasa asing sebagai sumber yang potensial untuk merefleksikan aspek-aspek sosiolinguistik dari bahasa target menjadi penting.
2.2.  Kriteria memilih teks sastra yang sesuai dalam kelas bahasa asing (ESL/EFL)
            Ketika memilih teks sastra yang akan digunakan di kelas, guru bahasa hendaknya mempertimbangkan kebutuhan, motivasi, minat, latar belakang budaya dan level penguasaan bahasa siswa. Namun, satu faktor penting untuk dipertimbangkan adalah apakah karya tertentu mampu menyingkapkan macam-macam keterlibatan personal dengan merangsang minat siswa dan memunculkan reaksi yang kuat dan positif dari mereka. Membaca teks sastra itu lebih memungkinkan untuk memiliki efek yang berharga dan jangka panjang pada pengetahuan linguistik dan ekstra-linguistik siswa ketika teks tersebut bermakna dan menghibur. Memilih buku-buku yang relevan terhadap pengalaman-pengalaman kehidupan nyata, emosi-emosi, atau mimpi-mimpi siswa adalah sangat penting. Kerumitan bahasa harus dipertimbangkan sebaik mungkin. Jika bahasa karya sastra itu sederhana, ini mungkin memfasilitasi kepahaman teks sastra tapi itu bukan kriteria yang paling krusial. Minat, daya tarik, dan keterkaitan juga penting. Kenikmatan; sebuah wawasan yang segar dalam isu-isu perlu dirasakan untuk dihubungkan ke pusat perhatian siswa; kesenangan menemui pemikiran seseorang atau situasi dijadikan contoh dengan jelas dalam sebuah karya seni; kesenangan lain yang sama dari memperhatikan pikiran-pikiran, perasaan, emosi, atau situasi yang sama itu dihadirkan oleh sebuah perspektif baru: semua ini adalah dimaksudkan untuk menolong siswa ketika berhadapan dengan rintangan linguistik yang mungkin terlalu besar dalam materi terbilang minim (Collie and Slatter 1990:6-7).
3.    Sastra dan Pengajaran kemampuan berbahasa
Sastra berperan penting dalam pengajaran empat kemampuan dasar berbahasa seperti membaca, menulis, menyimak dan berbicara. Namun, ketika mengggunakan sastra di kelas, kemampuan-kemampuan tersebut hendaknya tidak pernah diajarkan terpisah tetapi dalam cara yang terintegrasi. Guru hendaknya mencoba mengajarkan kemampuan dasar berbahasa sebagai bagian yang utuh dari penggunaan bahasa lisan ataupun tulis, sebagai bagian dari maksud untuk menciptakan makna interaksional maupun referensial, tidak hanya sebagai sebuah aspek dari produksi kata-kata, frasa-frasa, dan kalimat-kalimat lisan dan tertulis.
3.1.            Sastra dan Membaca
Guru ESL/EFL hendaknya mengadopsi sebuah dinamika pendekatan terpusat pada siswa terhadap sebuah karya sastra. Dalam pelajaran membaca, diskusi dimulai pada level literal/berdasar teks dengan pertanyaan-pertanyaan langsung dari fakta mengenai latar, karakter, dan alur yang dapat dijawab oleh rujukan spesifik kepada teks. Ketika siswa menguasai pemahaman literal, mereka pindah ke level inferensial, dimana mereka harus membuat spekulasi dan interpretasi mengenai karakter, latar, dan tema, dan dimana mereka menghasilkan sudut pandang penulis. Setelah memahami pemilihan dasar kesastraan pada level literal dan inferensial, siswa siap untuk melakukan kerja kolaboratif. Hal itu adalah untuk menyatakan bahwa mereka dapat saling berbagi evaluasi/penilaian mereka dan reaksi personal terhadap karya tersebut – terhadap karakter-karakter, tema, dan sudut pandang penulis. Hal ini juga merupakan saat yang tepat bagi mereka untuk berbagi reaksi mereka terhadap isu-isu natural dan kultural dan tema karya tersebut. Level ketiga yaitu level personal/evaluatif yang mana merangsang siswa untuk berpikir imajinatif tentang karya dan membangkitkan kemampuan penyelesaian masalah mereka. Diskusi berasal dari pertanyaan-pertanyaan (karakter,tema,latar) dapat menjadi pondasi untuk aktifitas lisan (speaking) maupun tertulis (writing) (Stern 1991:332).
3.2.            Sastra dan Menulis
Sastra bisa menjadi sumber yang kuat dan memotivasi bagi aktifitas menulis dalam konteks ESL/EFL, keduanya (sastra dan menulis) sebagai model dan sebagai subjek permasalahan. Sastra sebagai model/contoh terjadi ketika tulisan siswa menjadi nampak sama dengan karya original atau dengan jelas meniru konten, tema, penyusunan, dan/atau gayanya. Namun, ketika tulisan siswa memperlihatkan pemikiran asli seperti interpretasi atau analisis, atau ketika pemikiran itu muncul dari mereka sendiri, atau pemikiran itu secara kreatif dirangsang oleh, membaca, sastra berfungsi sebagai subjek masalah. Sastra menempatkan keragaman tema yang sangat besar untuk berbagai macam aktifitas menulis seperti menulis terbimbing, bebas, terkontrol dan lain-lain.
3.2.1.      Sastra sebagai sebuah model untuk menulis
Ada tiga macam menulis yang dapat didasarkan pada sastra sebagai sebuah model:
Menulis terkontrol: latihan-latihan berbasis model terkontrol yang mana banyak digunakan dalam menulis level permulaan secara khusus mensyaratkan wacana saduran dalam cara sembarang untuk berlatih struktur gramatikal yang spesifik. Contohnya siswa bisa menjadi reporter yang sedang melakukan sebuah acara berita langsung, atau mereka dapat menulis ulang sebuah wacana sudut pandang orang ketiga menjadi sudut pandang orang pertama dari sebuah karakter.
Menulis terbimbing: aktifitas ini bersesuaian dengan level intermediet ESL/EFL. Siswa merespon kepada sebuah urutan pertanyaan atau kalimat lengkap yang mana ketika diletakan bersama-sama, mereka dapat menceritakannya kembali atau meringkas model yang diberikan. Dalam beberapa kasus, siswa menyelesaikan latihan setelah mereka menerima beberapa kalimat pertama atau kalimat topik dari sebuah ringkasan, parafrase, atau deskripsi. Latihan-latihan menulis terbimbing, khususnya pada level literal, memungkinkan siswa untuk memahami suatu karya. Pendekatan model dan pendekatan skenario akan sangat berguna dalam hal ini.
Mereproduksi model: aktifitas ini terdiri dari teknik-teknik seperti memparafrase, meringkas, dan mengadaptasi. Teknik-teknik ini sangat berguna bagi latihan-latihan menulis dalam konteks ESL/EFL. Dalam mem-parafrase, siswa disyaratkan untuk menggunakan kata-kata mereka sendiri untuk menuliskan kembali hal-hal yang mereka lihat/baca dalam bentuk tertulis atau lisan. Karena parafrase bertepatan dengan percobaan siswa untuk memahami puisi, parafrase secara menonjol merupakan sebuah alat yang berguna untuk memahami puisi. Karya ringkasan berjalan baik dengan drama dan cerita pendek yang realistik, dimana kejadian-kejadian secara normal mengikuti sebuah urutan kronologis dan mempunyai elemen-elemen konkrit seperti alur, latar/setting, dan karakter untuk memandu siswa dalam menulis. Teknik adaptasi mensyaratkan penyaduran prosa fiksi kedalam dialog (percakapan) atau, secara berlawanan, menyadur sebuah drama atau scene kedalam narasi. Aktifitas ini memungkinkan siswa untuk sadar akan keragaman/variasi antara ragam bahasa Inggris lisan dan tulis.
3.2.2.      Sastra sebagai subjek masalah untuk menulis
Menemukan bahan/materi yang sesuai bagi kelas menulis terkadang sulit untuk guru mengarang/menulis karena menulis tidak memiliki subjek masalah sendiri. Satu kelebihan yang dimiliki sastra sebagai konten bacaan sebuah pelajaran mengarang adalah bahwa bacaan-bacaan menjadi subjek masalah untuk mengarang. Dalam sebuah pelajaran mengarang yang konten bacaannya adalah sastra, siswa membuat kesimpulan-kesimpulan, merumuskan pikiran-pikiran mereka sendiri, dan melihat secara dekat pada sebuah teks untuk bukti untuk mendukung generalisasi. Jadi, mereka belajar bagaimana untuk berpikir secara kreatif, bebas, dan kritis. Pelatihan seperti ini membantu mereka dalam pelajaran lain yang mensyaratkan penalaran logis, berpikir independen, dan analisis yang cermat terhadap teks (Spack 1985:719).
Secara utama ada dua macam menulis berdasarkan sastra sebagai subjek masalah: menulis “pada atau tentang” sastra, dan menulis “keluar dari” sastra. Kategori-kategori ini cocok dan berguna bagi siswa ESL/EFL.
3.2.2.1.Menulis “pada atau tentang” Sastra
Menulis “pada atau tentang” mencakup tugas-tugas tradisional – seperti respon tertulis terhadap pertanyaan-pertanyaan, menulis paragraf, esai dalam kelas, dan tugas mengarang dibawa ke rumah (take home) – dimana siswa menganalisis karya atau dimana mereka berspekulasi pada alat-alat sastra dan gaya. Menulis “pada atau tentang” dapat terjadi sebelum siswa mulai membaca sebuah karya. Guru pada umumnya mendiskusikan tema atau sebuah isu yang muncul dari karya tersebut, dan lalu siswa menulis tentang tema/isu itu dengan rujukan kepada pengalaman hidup mereka sendiri. Hal ini membantu untuk menarik perhatian mereka kedalam karya dan membuat mereka siap untuk membaca dan menulis tentang itu. Kebanyakan tugas-tugas menulis dilakukan baik selama dan setelah membaca, namun, juga bisa berasal dari diskusi kelas. Mereka mengambil banyak bentuk diskusi, seperti pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab, pernyataan/keterangan untuk diperdebatkan, atau topik-topik untuk diperluas. Untuk itulah kelompok-kelompok diskusi dibangun.
3.2.2.2.Menulis “keluar dari” Sastra
Menulis “keluar dari” sastra berarti mempergunakan sebuah karya sastra sebagai batu loncatan untuk karangan – tugas-tugas kreatif yang dikembangkan seputar alur, karakter, latar/setting, tema, dan bahasa kiasan. Ada banyak bentuk menulis keluar dari sastra, seperti Menambahkan sesuatu ke karya, merubah karya, Menulis terinspirasi Drama, dan Sebuah surat ditujukan kepada karakter lain, dll.
Menambahkan sesuatu kedalam karya: hal ini terdiri dari menulis episode atau sekuel (lanjutan) yang imajiner, atau, dalam kasus drama, “mengisi kedalam” adegan/scene untuk aksi off-stage yang hanya dirujuk kepada dialog.
Merubah karya: siswa dapat membuat akhiran cerita mereka sendiri dengan membandingkan akhiran/ending cerita milik penulis dengan milik mereka. Cerita-cerita pendek dapat disadur secara keseluruhan atau sebagian dari sudut pandang sebuah karakter melawan sudut pandang seorang narator orang ketiga atau dari karakter yang berbeda.
Menulis terinspirasi Drama: hal ini mungkin untuk melakukan aktifitas menulis yang terinspirasi dari drama, cerita-cerita pendek, novel-novel, dan juga terkadang puisi. Siswa menyelam kedalam kesadaran karakter dan kemudian menulis tentang sifat-sifat dan perasaan karakter itu.
Sebuah surat yang ditujukan kepada karakter lain: siswa dapat menulis sebuah surat kepada salah satu karakter, dimana dia memberikan karakter tersebut saran pribadi tentang bagaimana untuk mengatasi sebuah masalah atau situasi tertentu (Stern 1991:336).
3.3.            Sastra, Menyimak, dan Berbicara
Kajian sastra dalam sebuah kelas bahasa, walaupun digabungkan dengan membaca dan menulis, dapat memainkan sebuah peran yang sama-sama bermakna dalam pengajaran baik berbicara maupun menyimak. Membaca nyaring, dramatisasi, improvisasi, bermain peran, pantomim, diskusi, dan aktifitas kelompok mungkin berpusat pada sebuah karya sastra.
Membaca Nyaring
Guru bahasa dapat membuat pemahaman menyimak dan pengucapan (pronunciation) menjadi menarik, memotivasi dan terkontekstualisasi pada level teratas, memainkan sebuah rekaman atau video dari sebuah karya sastra, atau membaca sastra nyaring mereka sendiri. Menginstruksikan siswa membaca sastra secara nyaring berkontribusi untuk mengembangkan speaking sebaik kemampuan listening/menyimak. Selain itu, hal ini mengarah pada peningkatan kualitas pengucapan. Pengucapan/pronunciation mungkin menjadi fokus sebelum, selama, dan/atau setelah membaca.

Drama
            Tidak perlu untuk dikatakan, aktifitas dramatis berbasis sastra itu bermanfaat bagi siswa ESL/EFL. Aktifitas-aktifitas tersebut memfasilitasi dan mempercepat perkembangan kemampuan lisan karena memotivasi siswa untuk meraih pemahaman yang lebih jelas dari sebuah alur suatu karya dan juga pemahaman yang lebih dalam akan kesadaran karakter-karakternya. Walaupun drama dalam kelas dapat mengasumsikan banyak bentuk, ada tiga tipe utama, yaitu adalah dramatisasi/penulisan drama, bermain peran, dan improvisasi.
Dramatisasi/penulisan drama
Dramatisasi mensyaratkan pertunjukan kelas dari materi tertulis naskah. Siswa dapat membuat naskah milik mereka sendiri untuk cerita pendek atau bagian/segmen novel, mengadaptasi karya mereka sedekat mungkin kepada teks asli. Didasarkan pada cerita, mereka harus menerka apa yang akan karakter katakan dan bagaimana mereka akan mengatakannya. Naskah ditulis oleh siswa yang juga mungkin terlibat dalam drama. Puisi terdiri dari satu atau lebih persona mungkin juga ditulis oleh siswa. Siswa hendaknya dengan perhatian membaca segmen/bagian yang ditentukan dari dialog sebelumnya dan mampu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang karakter dan alur. Mereka hendaknya menandai kosa kata, idiom, atau dialog yang mereka tidak mengerti dan kata-kata yang tidak bisa mereka ucapkan/ujarkan. Siswa kemudian berlatih adegan dengan partner mereka. Walaupun mereka tidak mengingatnya, mereka mempelajarinya dengan cukup baik untuk membuat kontak mata dan mengatakan dialog/monolog mereka dengan makna dan perasaan. Selain itu, mereka berdiskusi mengenai aspek-aspek semiotik dalam mementaskan adegan (contoh; ekspresi wajah, gestur, dan aspek-aspek fisik). Akhirnya dramatisasi dihadirkan sebelum kelas dimulai.
Improvisasi dan bermain peran
Baik improvisasi dan bermain peran mungkin dikembangkan seputar karakter, alur, dan tema karya sastra. Improvisasi adalah sebuah aktifitas yang lebih sistematis, yaitu sebuah dramatisasi tanpa sebuah naskah. Ada sebuah alur yang dapat diidentifikasi dengan sebuah awalan, pertengahan, dan akhiran di improvisasi. Namun, dalam bermain peran, siswa membayangkan karakter dari karya yang sedang mereka baca dan bergabung dalam sebuah aktifitas berbicara yang lain daripada sebuah dramatisasi, seperti sebuah interview atau diskusi panel.


Aktifitas Kelompok
Dalam aktifitas ini, masing-masing siswa bertanggung jawab mengungkapkan fakta-fakta dan ide-ide untuk dikontribusikan dan didiskusikan yang merangsang partisipasi secara total. Semua siswa dilibatkan dan partisipasi bersifat multi direksional. Ketika mengajarkan bahasa Inggris melalui sastra, beberapa aktifitas kelompok yang digunakan dalam kelas bahasa adalah diskusi kelas umum, kerja kelompok kecil, diskusi panel, dan debat. Semua aktifitas kelompok ini berfungsi untuk mengembangkan kemampuan berbicara siswa dan memberikan kesempatan untuk berlatih pengucapan. Guru menandai kesalahan pengucapan siswa selama kegiatan tersebut kemudian membenarkan kesalahan-kesalahan tersebut agar tidak terulang kembali (Stern 1991:337).
4.    Kelebihan jenis-jenis sastra yang berbeda pada bahasa
4.1.  Kelebihan menggunakan puisi pada pengajaran bahasa
Puisi dapat membuka jalan untuk pembelajaran dan pengajaran kemampuan dasar berbahasa. Hal itu adalah perumpamaan yang merupakan koneksi/hubungan yang paling penting antara pembelajaran dan puisi. Karena kebanyakan puisi secara sadar atau tidak mempergunakan kiasan sebagai salah satu metode utamanya, puisi menawarkan sebuah proses pembelajaran yang signifikan. Ada setidaknya dua kelebihan pembelajaran yang dapat diambil dari mengkaji/mempelajari puisi:
Ø  Apresiasi proses karangan penulis, yang mana siswa dapatkan dengan mempelajari puisi beserta komponen-komponennya.
Ø  Mengembangkan sensitifitas untuk kata-kata dan penemuan-penemuan yang mungkin nanti tumbuh kedalam minat yang lebih dalam dan kemampuan analitis yang lebih hebat.
Sarac (2003: 17-20) juga menjelaskan kelebihan edukasi dari puisi sebagai berikut:
·         Menyediakan pembaca dengan sudut pandang yang berbeda terhadap penggunaan bahasa dengan bergerak keluar pemakaian kata-kata dan aturan-aturan tata bahasa, sintaksis, juga kosa kata yang telah diketahui,
·         Menggerakkan pembaca yang tak bersemangat dengan membuka eksplorasi dan penafsiran-penafsiran yang berbeda,
·         Membangkitkan perasaan-perasaan dan gagasan-gagasan dalam hati dan pikiran,
·         Membuat siswa familiar dengan perumpamaan/kiasan (contoh; kias, metafora, ironi, personifikasi, imajeri, dll.) karena menjadi bagian penggunaan bahasa sehari-hari mereka.
Sebagaimana Cubukcu (2001:1) menyebutkan, puisi adalah sebuah pengalaman yang dapat dinikmati dan berharga dengan ciri-ciri memiliki rima dan ritme yang mana dapat menyampaikan “cinta dan apresiasi untuk bunyi dan kekuatan bahasa”. Pada titik waktu ini, dapat dinyatakan bahwa siswa menjadi familiar dengan aspek-aspek suprasegmental dari bahasa target, seperti tekanan/stress, puncak/pitch, titik temu, intonasi dengan mempelajari puisi.
Melalui puisi, siswa dapat belajar juga elemen-elemen semiotik dalam bahasa target. Elemen-elemen itu merupakan pelatihan kultural. Sebagaimana Hiller (1983:10) menyatakan, puisi hendaknya dilihat sebagai unsur hypersign, “semiotic signifier”, bersama-sama masuk kedalam hubungan yang lazim siswa dan mengarah kepada “level simbolik” dan level ini merupakan kecenderungan seseorang untuk di artikan dalam sebuah puisi. Gagasan ini dapat dideskripsikan sebagai berikut:
                                                                        Signifier
Level semiotik ----------------------
                                                                                    Signifier
Puisi-Hypersign ------------------------------
Level simbolik Signified
Selain itu, puisi menggunakan bahasa untuk membangkitkan dan mengagungkan kualitas hidup spesial, dan memuaskan pembaca dengan perasaan. Hal itu adalah khususnya lirik puisi yang didasarkan pada perasaan dan masih menyediakan kelebihan emosional yang lain. Puisi adalah salah satu dari pemancar budaya yang paling efektif dan sangat kuat. Puisi terdiri dari sangat banyak elemen budaya – kiasan, kosa kata, idiom, termasuk nada yang tidak mudah diterjemahkan kedalam bahasa lain (Sage 1987: 12-13).
4.2.            Kelebihan menggunakan cerita pendek pada pengajaran bahasa
Fiksi pendek merupakan sebuah sumber tertinggi untuk mengamati tidak hanya bahasa tapi kehidupan itu sendiri. Dalam fiksi pendek, karakter-karakter bertindak diluar tindakan yang simbolis dan nyata yang mana orang-orang lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Dunia fiksi pendek mencerminkan dan menerangi kehidupan manusia (Sage 1987:43). Penyertaan fiksi pendek dalam kurikulum ESL/EFL menawarkan kelebihan edukasi sebagai berikut (Ariogul 2001:11-18):
·         Membuat tugas bacaan siswa menjadi lebih mudah karena menjadi sederhana dan pendek ketika dibandingkan dengan genre sastra yang lain,
·         Memperluas level lanjutan pandangan dunia pembaca tentang budaya yang berbeda dan kelompok masyarakat yang berbeda,
·         Menyediakan teks yang lebih kreatif, enkripsi, dan menantang yang mensyaratkan eksplorasi pribadi yang didukung dengan pengetahuan yang telah ada untuk pembaca level lanjutan,
·         Memotivasi siswa untuk membaca sebab menjadi sebuah materi yang otentik,
·         Menawarkan sebuah dunia keajaiban dan dunia misteri,
·         Memberikan siswa kesempatan untuk menggunakan kreatifitas mereka,
·         Mempromosikan kemampuan berpikir kritis,
·         Memfasilitasi pengajaran budaya asing (contoh; berfungsi sebagai sebuah instrumen yang berharga dalam mendapatkan pengetahuan budaya dari komunitas yang telah dipilih),
·         Membuat siswa merasa nyaman dan bebas,
·         Membantu siswa yang berasal dari berbagai latar belakang untuk berkomunikasi dengan satu sama lain karena bahasanya yang universal,
·         Membantu siswa untuk bergerak keluar dari makna yang terlihat dan menyelam kedalam makna yang lebih dasar/pokok,
·         Bertindak sebagai sebuah kendaraan yang sempurna untuk membantu siswa mengerti posisi mereka sendiri dengan mentransfer pengetahuan yang telah didapatkan ini untuk dunia mereka sendiri.
Singkatnya, penggunaan cerita pendek nampaknya menjadi sebuah teknik yang sangat membantu di kelas bahasa asing sekarang ini. Sebagaimana hal itu, cerita pendek membuat tugas membaca siswa dan jangkauan guru menjadi lebih mudah. Sebuah ciri-ciri penting dari cerita fiksi pendek adalah nilai universalnya. Untuk meletakannya secara berbeda, siswa di seluruh dunia telah mengalami cerita-cerita dan dapat menghubungkan cerita-cerita itu kepada mereka. Selain itu, fiksi pendek, seperti semua macam/tipe sastra, memberikan kontribusi kepada perkembangan kemampuan analitis kognitif dengan membawa keseluruhan nilai itu kepada sebuah hal yang padat dari sebuah situasi di setiap tempat dan momen (Sage 1987:43).
4.3.            Kelebihan menggunakan drama pada pengajaran bahasa
Menggunakan drama dalam sebuah kelas bahasa adalah sebuah sumber yang baik untuk pengajaran bahasa. Melalui penggunaan drama dapat dikatakan bahwa siswa menjadi familiar dengan struktur gramatikal dalam konteks dan juga belajar tentang bagaimana menggunakan bahasa untuk berekspresi, mengkontrol, dan menginformasikan sesuatu hal. Penggunaan drama meningkatkan kesadaran siswa terhadap bahasa dan budaya target. Dalam konteks ini, penggunaan drama sebagai sebuah alat belajar menjadi penting dalam mengajarkan sebuah bahasa asing. Namun, ada satu bahaya yang jelas: pembebanan kultural hendaknya dengan keras dihindari sebab itu akan membuat hilangnya ego bahasa dan identitas bahasa asli/asal dalam banyak kasus. Untuk meletakannya secara berbeda, pembelajaran bahasa hendaknya menjadi bebas-budaya tapi secara keseluruhan tidak kecenderungan-budaya. Unuk alasan ini, bahasa baru dan konteks drama seharusnya bersatu kedalam sebuah proses pembelajaran bahasa dengan minat, keterkaitan/relevansi, dan kenikmatan yang tinggi. Siswa hendaknya mempergunakan drama untuk mempromosikan pemahaman mereka terhadap pengalaman hidup, bercermin pada keadaan tertentu dan mengerti dunia ekstralinguistik mereka dalam cara yang lebih dalam (Saricoban 2004:15). Kelebihan edukasi dari drama berdasarkan (Lenore 1993), adalah sebagai berikut:
·         Menstimulasi imajinasi dan mempromosikan berpikir kreatif,
·         Mengembangkan kemampuan berpikir kritis,
·         Mempromosikan perkembangan bahasa,
·         Mempertinggi kemampuan menyimak efektif,
·         Memperkuat pemahaman dan ingatan belajar dengan melibatkan makna-makna/indera sebagai bagian yang utuh dari proses belajar,
·         Meningkatkan empati dan kesadaran dengan sesama,
·         Mengembangkan rasa menghormati sesama dan kerja sama kelompok,
·         Menguatkan konsep diri yang positif,
·         Membekali guru dengan sudut pandang yang segar pada pengajaran.
Beberapa kelebihan edukasi lain dari penggunaan drama dalam kelas bahasa asing dapat didaftarkan sebagai berikut (Mengu 2002: 1-4):
Ø  Membawa otentisitas/keaslian kedalam kelas,
Ø  Mengekspos siswa kepada budaya target sebagaimana permasalahan sosial sebuah masyarakat yang mungkin sedang terjadi,
Ø  Meningkatkan kreatifitas, keaslian, sensitifitas, kefasihan, flexibilitas/keluwesan, stabilitas emosi, kerja sama, dan ujian sikap moral, sementara juga mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan apresiasi sastra,
Ø  Membantu siswa meningkatkan level kompetensi mereka dengan melihat kemampuan produktif dan reseptif mereka,
Ø  Membekali dasar/pondasi yang kuat bagi siswa untuk menjembatani celah yang ada antara kemampuan produktif dengan kemampuan reseptif mereka,
Ø  Menawarkan siswa ruang dan waktu untuk mengembangkan ide-ide baru dan wawasan dalam jangkauan/ruang lingkup konteks lingkungan,
Ø  Memungkinkan siswa untuk mengembangkan pemahaman baru dan bentuk-bentuk pengetahuan yang tidak dapat dicapai dalam cara belajar tradisional lain.
Dengan kata lain, penggunaan drama nampaknya menjadi sebuah teknik yang efektif dalam pengajaran bahasa asing yang berbasis komunikasi dan terpusat pada siswa sekarang ini. Karena drama adalah materi yang otentik, maka drama dapat membantu siswa mengungkapkan pemahaman aspek verbal/nonverbal mereka dari bahasa target yang mereka coba kuasai. Khususnya, guru, yang diharapkan untuk membuat pembelajaran bahasa menjadi lebih berwarna, bermotivasi, dan menarik yang dapat mempergunakan drama dalam kelas bahasa mereka. Karena drama adalah pemberlakuan kembali kejadian-kejadian sosial, siswa meningkatkan kepribadian mereka dan kode etik bertingkah laku. Jadi, mereka dapat meraih pengajaran yang lebih makna dan lebih realistis yang mana menguntungkan mereka pada  tingkat tertentu.
4.4.            Kelebihan menggunakan Novel pada pengajaran bahasa
Penggunaan novel adalah teknik yang bermanfaat untuk menguasai tidak hanya sistem linguistik tapi juga kehidupan dalam hubungannya pada bahasa target. Novel tidak hanya membawakan cerita tetapi juga menerangi kehidupan manusia. Menggunakan novel dalam sebuah kelas bahasa asing menawarkan kelebihan-kelebihan edukasi dibawah ini:
·         Mengembangkan level lanjutan pengetahuan pembaca tentang budaya-budaya yang berbeda dan kelompok masyarakat yang berbeda pula,
·         Meningkatkan motivasi siswa untuk membaca sesuatu yang otentik,
·         Menawarkan kehidupan nyata seperti setting/latar,
·         Memberikan siswa kesempatan untuk mempergunakan kreatifitas mereka,
·         Meningkatkan kemampuan berpikir kritis,
·         Membuka jalan untuk mengajarkan budaya dan bahasa target,
·         Memungkinkan siswa untuk bergerak keluar dari apa yang tertulis dan bergerak masuk kedalam apa yang dimaksud (tersirat).
Helton, C.A, J.Asamani dan E.D. Thomas (1998: 1-5) menerangkan kelebihan-kelebihan edukasi novel sebagai berikut:
Ø  Menstimulasi imajinasi siswa,
Ø  Membantu siswa mengidentifikasi emosi karakter sehingga mereka dapat belajar bagaimana yang lain berhadapan dengan situasi dan masalah yang mirip kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri,
Ø  Membantu mereka menguasai kemampuan-kemampuan yang akan memungkinkan mereka untuk mendapatkan informasi, memproses pengetahuan, mengidentifikasi permasalahan, merumuskan alternatif/pilihan, dan tiba pada keputusan dan solusi yang efektif, bermakna, dan reflektif.
Ø  Mengembangkan kemampuan berbahasa lisan maupun tulis,
Ø  Berfungsi sebagai sebuah batu loncatan untuk sejumlah besar pembelajaran dan aktifitas berpikir kritis yang terintegrasi yang dimulai dengan pemahaman dasar dan menulis dasar,
Ø  Menghadirkan cara yang unik dari pengajaran membaca dengan mendorong siswa untuk terlibat dan tertarik dengan proses membaca,
Ø  Memotivasi siswa untuk menjadi pembaca sepanjang hayat.
Ketika menseleksi sebuah novel untuk digunakan di kelas bahasa asing, guru bahasa hendaknya memperhatikan pada apakah novel tersebut mempunyai sebuah cerita yang membangkitkan rasa ingin tahu siswa yang kemudian akan menjadi daya tarik ke seluruh kelas. Tema dan latar/setting memikat imajinasi siswa dan mengeksplorasi kondisi manusia hendaknya dimasukan kedalam sifat novel yang terpilih. Novel hendaknya mempunyai karakter-karakter yang kuat, alur langkah cepat dan menarik, dideskripsikan dengan baik, dan mudah diingat. Konten novel hendaknya sesuai kepada level kognitif dan emosi siswa. Tema dan konsep yang spesifik yang dikembangkan dalam kelas harus digabungkan juga kedalam novel.
Ketika menilai pemahaman, guru mungkin menggunakan tes novel yang mensyaratkan siswa untuk mengembangkan bagian kemampuan bahasa tulis seperti ejaan, tulisan tangan, tata bahasa, dan tanda baca. Tipe tes esai tertulis seperti itu membantu siswa secara bertahap untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam menulis dan menyusun materi kedalam paragraf-paragraf dengan struktur kalimat yang dapat diterima. Tes dibuat tidak hanya dari pertanyaan-pertanyaan yang berdasar pada fakta yang berfungsi sebagai sebuah dasar penilaian pemahaman tapi juga pertanyaan-pertanyaan yang bersifat berakhir-terbuka (open-ended) yang mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Pertanyaan yang berakhir-terbuka memungkinkan siswa untuk memprediksi hasil, membuat perbandingan dan pertentangan, dan menggambarkan kesimpulan. Diskusi kelas dari tiap-tiap kejadian dalam novel terdiri dari pikiran pokok dan detil pendukung, termasuk siapa, apa, kapan, dimana, dan bagaimana. Detil/rincian dari berbagai isu-isu sosial seperti gangguan/pelecehan seksual dan aborsi, yang mana sering menjadi sebuah bagian yang utuh dari alur, dapat membangkitkan debat yang menarik. Diskusi dapat juga memfasilitasi pengembangan kosa kata (Helton, C.A, J.Asamani dan E.D.Thomas 1998: 1-5).
Secara singkat, penggunaan novel merupakan teknik yang sangat bermanfaat di kelas bahasa sekarang ini. Jika diseleksi secara cermat, menggunakan sebuah novel membuat pelajaran membaca siswa menjadi memotivasi, menarik dan menghibur. Walaupun banyak siswa menemukan bahwa membaca sebuah novel tertulis dalam sebuah bahasa target itu sulit, membosankan, tidak memotivasi, namun novel adalah sebuah cara yang efektif untuk membangun kosa kata dan mengembangkan kemampuan pemahaman membaca. Hanya lewat membacalah siswa bisa memperluas cakrawala, menjadi familiar dengan budaya-budaya lain, dan seterusnya mengembangkan kompetensi komunikatif interkultural mereka, mempelajari bagaimana melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Hasilnya akan berbuah menjadi kemampuan menulis dan berpikir yang kritis.
5.    Kesimpulan
Sastra berperan penting dalam program bahasa Inggris dari banyak negara non-berbahasa Inggris. Namun, ada beberapa permasalahan yang dijumpai oleh para guru bahasa dalam area pengajaran bahasa Inggris melalui sastra. Pertama, ada sedikit bahan/materi secara pedagogis terdesain sesuai yang bisa digunakan oleh para guru bahasa di sebuah kelas bahasa. Kedua, kurangnya persiapan di area pengajaran sastra di program TESL/TEFL. Ketiga, ketidakhadiran objektif yang jelas yang menentukan peran sastra di ESL/EFL. Banyak instruktur yang mencoba untuk memasukan sastra didalam kelas mereka, tapi mereka kurang latar belakang dan pelatihan di bidang tersebut.
Guru mempunyai sebuah peran penting dalam pengajaran bahasa Inggris melalui sastra. Pertama, dia harus menetukan tujuan pengajaran bahasa dalam hubungannya dengan kebutuhan dan harapan/ekspektasi siswa. Memberikan sebuah quesioner atau interview/wawancara dengan siswa secara lisan, guru dapat mengatur tujuan dan objektif pengajaran bahasa. Kedua, dia hendaknya memilih metode pengajaran bahasa, teknik mengajar, dan aktifitas kelas yang sesuai. Kemudian, guru harus memilih teks sastra yang relevan kepada tujuan dan objektif pengajarannya. Sementara memilih teks sastra yang akan digunakan dalam kelas, kemahiran berbahasa, minat, usia, jenis kelamin dan sebagainya harus dipertimbangkan agar tidak menjemukan siswa dengan materi/bahan yang tidak sesuai. Pada level/tingkat sekolah dasar, contohnya, siswa hendaknya diberikan cerita tertulis yang disederhanakan secara khusus. Pada level lanjutan, biarpun begitu, siswa diberikan karya sastra dalam bentuk aslinya sehingga mereka bisa mengembangkan kompetensi kesastraan mereka dalam bahasa target. Untuk meletakan itu dalam cara yang lain, siswa belajar secara praktis penggunaan bahasa target yang figuratif (kiasan) dan bahasa sehari-hari dalam teks sastra dan menjumpai genre sastra yang berbeda (contoh; puisi, cerita pendek, drama/lakon, dll.) pada level/tingkat lanjutan. Mengamati bagaimana karakter-karakter dalam sebuah drama atau sebuah cerita pendek menggunakan perumpamaan/kiasan, seperti kiasan/ibarat, metafora, metonomi, dan sebagainya sehingga akan memunculkan maksud komunikatif mereka, lalu siswa belajar bagaimana menulis bahasa Inggris dengan jelas, kreatif, dan efektif.

Sebagaimana Obediat (1997:32) menyatakan bahwa sastra membantu siswa untuk mendapatkan kompetensi seperti seorang penutur asli dalam bahasa Inggris, mengekspresikan ide-ide mereka dalam bahasa Inggris yang baik, belajar fitur-fitur bahasa Inggris modern, belajar bagaimana sistem linguistik bahasa Inggris digunakan untuk komunikasi, melihat bagaimana ekspresi idiomatis digunakan, berbicara dengan jelas, dengan tepat, dan secara ringkas dan menjadi lebih cakap dalam bahasa Inggris, sebagaimana menjadi siswa yang kreatif, kritis, dan analitis. Custodio dan Sutton (1998:20) menjelaskan bahwa sastra dapat membuka cakrawala kemungkinan (possibilities), memungkinkan siswa untuk bertanya, bertafsir, menghubungkan, dan bereksplorasi. Singkatnya, sastra menyediakan siswa dengan sebuah sumber materi yang otentik dan kaya serta tidak ada bandingannya. Jika siswa dapat memperoleh akses kedalam materi ini dengan mengembangkan kompetensi sastra, kemudian pada akhirnya mereka dapat menghayati bahasa pada level tinggi secara efektif (Elliot 1990:198). Khususnya, untuk para siswa dengan kecerdasan verbal/linguistik, penggunaan sastra oleh guru bahasa dalam sebuah kelas bahasa asing berfungsi untuk menciptakan pelajaran yang sangat memotivasi, menghibur dan hidup. Sastra tidak hanya merupakan sebuah alat untuk mengembangkan kemampuan tulis dan lisan siswa dalam bahasa target tetapi juga merupakan sebuah jendela pembuka kedalam budaya bahasa target, juga membangun sebuah kompetensi kultural pada diri siswa sendiri.